[Kota Tua Padang, Sumatera Barat yang terlupakan] – Rumah Ibadah

Cuaca terik kota Padang tidak menghalangi saya untuk melihat-lihat bangunan-bangunan tua di kawasan Pondok dan sekitarnya, banyak bangunan bergaya Tionghoa menghiasi bangunan tua di sekitar daerah tersebut. Ruko-ruko dua lantai, rumah duka, bekas hotel, pabrik, kelenteng semuanya masih mempertahankan bentuk aslinya. Beberapa rumah hancur karena diguncang gempa besar tahun 2009, sebagian lagi yang tersisa adalah sejumlah bangunan tua tak bertuan yang kumuh dan rapuh. Kemungkinan rasa trauma akan gempa membuat sebagian warga Pondok memilih untuk pindah dari Padang. Para penghuni Pondok yang masih bertahan untuk tinggal di daerah ini dengan memanfaatkan rumah mereka sebagai ruko, lantai bawah dijadikan sebagai tempat usaha dan lantai atasnya sebagai tempat tinggal.

Di sepanjang jalan Klenteng Padang banyak bangunan yang masih memancarkan keindahan arsitektur Tiongkok masa lalu. Oleh Pemerintah Kota Padang bangunan tua yang telah berusia lebih dari lima puluh tahun dan masih terawat dengan baik ditetapkan sebagai benda cagar budaya dengan penandaan di setiap pintu masuk rumah. Tempat peribadatan umat tridharma; Buddha, Konghuchu dan Tao juga terdapat disini yaitu Kelenteng See Him Kiong tetapi saat ini kelenteng tersebut direnovasi dan akan dijadikan sebuh museum, sedangkan sebuah kelenteng yang baru dengan nama yang sama sedang dibangun berjarak hanya seratus meter dari bangunan lama.

ImageKelenteng See Him Kioang (baru)

Diantara rumah-rumah etnis tionghoa tersebut, terdapat beberapa bangunan yang mencerminkan budaya komunal Tionghoa yaitu perkumpulan-perkumpulan sosial. Setiap gedung perkumpulan memiliki rumah besar yang difungsikan sebagai kantor, aula, gedung wanita, dan rumah duka. Seperti contoh Gedung Wanita Himpunan Bersatu Tegauh, Perkumpulan Sosial Pemakaman dan Kebudayaan Himpunan Bersatu Teguh, Rumah Duka Himpunan Tjinta Teman.

ImageGedung Wanita Himpunan Bersatu Teguh

Image

Perkumpulan Sosial Pemakaman dan Kebudayaan Himpunan Bersatu Teguh

ImageRumah Duka Hmpunan Tjinta Teman

Beralih ke jalan Gereja Kota Padang, saya tertarik dengan bangunan gereja berarsitektur Eropa yaitu Kapel Santo Leo yang merupakan Budaya Cagar Budaya di Kota Padang. Bangunan ini mengalami rusak parah akibat gempa bumi 7,9 SR, pada 30 September 2009. Bagian depan bangunan gereja di atas panti imam runtuh total.Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, umat kristiani serta pihak-pihak lain telah merekonstruksi bangunan tua gereja ini serta tetap mempertahankan keasliannya selesai pada tangggal 4 Oktober 2011.

Image

ImageKapel Santo Leo

Image

Prasasti pembangunan Kapel Santo Leo (pada masa kolonial Belanda)

Image

Prasasti selesainya Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kapel Santo Leo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s