Masjid Raya Ganting – Cagar Budaya Kota Padang Yang Perlu Dilestarikan

Waktu telah menunjukkan pukul 16.10 WIB. Karena saya belum melaksanakan ibadah sholat ashar, saya menyempatkan diri untuk beribadah di Masjid Raya Ganting yang konon katanya masjid tertua di Kota Padang.

Masjid Raya Ganting Padang Sumatera Barat

Masjid ini terletak di Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Mulai dibangun pada tahun 1805, masjid ini tercatat sebagai masjid tertua di Padang dan salah satu yang tertua di Indonesia serta telah menjadi cagar budaya.

Tidak diketahui secara pasti tahun berapa masjid ini mulai berdiri. Terlepas dari perbedaan-perbedaan mengenai tahun mulai berdirinya masjid ini, dari sejumlah catatan dan informasi dari pengurus mesjid diketahui bahwa pembangunan masjid di pusat Minangkabau di Padang abad ke-18 dan ke-19 ini diprakarsai oleh tiga tokoh masyarakat setempat, yaitu Angku Gapuak (saudagar), Angku Syekh Haji Uma (kepala kampung Ganting), dan Angku Syekh Kapalo Koto (ulama), sementara biayanya banyak diperoleh dari para saudagar dan ulama Minangkabau di sejumlah tempat di Sumatera.

Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 102 × 95,6 meter persegi dengan bangunan  berbentuk persegi panjang berukuran 42 × 39 meter persegi. Bangunan terdiri dari serambi muka, serambi samping (kiri dan kanan), mihrab, dan ruang utama. Luas bangunan yang kurang dari seperlima luas lahan menyisakan halaman yang luas yang dapat menampung banyaknya jamaah pada saat pelaksanaan salat Ied pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Halaman tersebut dipagari besi dan berbatasan langsung dengan jalan raya di sebelah timur dan utara. Di sebelah selatan dan belakang masjid terdapat beberapa makam, salah satunya adalah makam Angku Syekh Haji Uma, satu dari tiga orang pemrakarsa pembangunan masjid ini.

Image

Mihrab tempat imam memimpin salat dan menyampaikan khotbah dibuat ukiran kayu mirip ukiran Cina 

Memasuki ruang dalam masjid, terlihat arsitektur interior masjid yang megah. Perpaduan arsitektur dari berbagai corak terlihat jelas pada bangunan masjid ini karena pengerjaannya melibatkan beragam bangsa seperti Eropa, Timur Tengah, Cina, dan Minangkabau.

Image

Interior Mesjid

Masjid ini juga memiliki tatanan atap berupa atap susun berundak-undak sebanyak lima tingkat dengan puncak berkubah berhiaskan mustaka. Unsur etnis Cina terlihat dari bangunan kubah yang dibuat persegi delapan mirip atap vihara Begitu juga, pada mihrab tempat imam memimpin salat dan menyampaikan khotbah dibuat ukiran kayu mirip ukiran Cina karena tukang-tukangnya pun didatangkan dari Cina untuk mengerjakan ukiran-ukiran tersebut. Bagian depan (fasad) masjid seluas 20 m bergaya Portugis. Selain itu, lantai masjid diganti dengan semen yang didatangkan dari Jerman. Pada tahun 1900, dimulailah pemasangan tegel dari Belanda yang dipesan melalui NV Jacobson van den Berg (terlihat dari bentuknya yang segi enam dan motif bunga khas buatan Eropa). Pemasangan tegel tersebut ditangani oleh tukang yang ditunjuk langsung oleh pabrik dan selesai pada tahun 1910.

Image

Lantai masjid berbentuk segi enam bermotif bunga langsung didatangkan dari Belanda

Di ruang utama juga, terdapat tiang utama berjumlah 25 yang berbentuk segi enam dengan diameter 40 sampai 50 cm dan tinggi mencapai 420 cm, yang konon katanya tiang-tiang tersebut terbuat dari bata merah dengan bahan perekat kapur dicampur putih telur ini sama sekali tidak menggunakan tulang besi. Jumlah 25 tiang berjajar 5 melambangkan 25 nabi, dan masing-masing tiang dilapisi marmer putih berhiaskan kaligrafi yang memuat nama 25 nabi mulai dari Adam sampai Muhammad. Tiang-tiang tersebut berfungsi sebagai penopang utama konstruksi atap masjid yang berbentuk segi delapan.

Image

25 Tiang Utama

Image

Tiang utama berbentuk segi delapan bertuliskan nama-nama Rasul

Masjid yang pembangunannya melibatkan beragam bangsa ini menjadi pusat pergerakan reformasi Islam di daerah tersebut pada abad ke-19, Masjid ini termasuk bangunan yang tetap utuh setelah gelombang tsunami menerjang kota Padang dan sekitarnya akibat gempa bumi tahun 1833, walaupun mengalami kerusakan cukup berarti akibat gempa tahun 2005 dan 2009.

Pasca gempa 30 September 2009 ,  Masjid tertua di Kota Padang tersebut rusak parah dan dinyatakan tidak layak pakai. Sejak Februari 2010, Masjid ini direnovasi atas bantuan dari Bank Mandiri dengan total biaya Rp1,3 miliar, namun karena ada kendala teknis hingga saat ini renovasi  belum selesai.

Advertisements

2 thoughts on “Masjid Raya Ganting – Cagar Budaya Kota Padang Yang Perlu Dilestarikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s